Pindah Gan

•December 28, 2008 • 1 Comment

karena bosan, awak pindah ke sini.

Memilih Yang Paling Tidak Buruk

•December 25, 2008 • 4 Comments

Bosan kuliah
Tidak ingin kembali ke rumah
Ingin cepat ke bandung
Ingin tahun baru bersama teman SMA
Bosan dengan rutinitas di ITB
Menginginkan hal yang baru
Bosan
Kesal di rumah
Kesal
Ingin sesuatu yang baru

pain and hatred

•December 25, 2008 • Leave a Comment

mengesalkan sekali dunia ini
penuh ketidakadilan dan penderitaan
di manakah kebenaran Tuhan?
apakah yang bisa kulakukan hanya menyerahkan kepadaMu
kebencian ini terlalu kuat untuk dilunturkan
lari
dan terus berlari
kabur dari derita ini
karena kebencian terhadap dunia ini sudah memuncak
tak tertahankan
sampah dunia
untuk apa ada kata keadilan
kalau ketidakadilan selalu terjadi
untuk apa ada kata nikmat
jika derita selalu dirasa
kesal dan sesal
aku harus terus tumbuh
membawa penderitaan dan sakit dalam jiwa
biarkan kebencian ini tumbuh subur
hingga akhir dunia
hingga akhir kisah manusia
hingga segalanya musnah
musnahkan segala yang ada
hingga tersisa
kebencian dan luka
luka
dan
kebencian

Perempuan dan Laki-laki

•December 24, 2008 • 3 Comments

Karena perempuan ingin dimengerti, dan laki-laki ingin menang sendiri

Karena perempuan menangis, dan laki-laki marah

Karena perempuan bersembunyi, dan laki-laki mencari

Karena perempuan bersabar, dan laki-laki tergesa-gesa

Karena perempuan cari aman, dan laki-laki selalu nekat

Karena perempuan begini, dan laki-laki begitu

Perempuan dan Laki-laki diciptakan untuk saling melengkapi

Tulang rusuk ada untuk melindungi jantung dan hati

Perempuan dan Laki-laki diciptakan berpasang-pasangan

Mentari terlihat di pagi hari, dan bulan benderang di gelap malam

Perempuan dan Laki-laki diciptakan untuk saling menemani

Saling berbagi, dan memberi

Saling menghormati, dan menyayangi

Saling memahami

Saling mencintai

Kuliah Seperti Game?

•December 16, 2008 • 3 Comments

Tadi habis ngobrol sama Arthur EL05. Habis curhat ke bandito itu masalah kuliah dan masalah WS 🙂

Sebuah ide menarik yang sempat terpikirkan namun tidak tertindaklanjuti:

“kalau kita bisa membuat kuliah seperti sebuah game yang asyik untuk dimainkan, tentu kita akan memiliki motivasi yang tak terbatas”

ckckckck..
ada juga cara menambah motivasi dengan unik yang dia bilang:
“ada yang bilang kalo punya cewek bisa nambah semangat. soalnya mikirin gimana menghidupi entar, kerja apa, IP gimana”

kenapa ide kedua ini mirip dengan kata-kata si kakaknya ganang ya:
“tentang organisasi dan kepemimpinan itu kalo dari buku cuman dikit banget dapetnya. itu bisa lo dapetin dari memahami cewek. cari cewek gih biar lo cepet gede”

sepenting itukah cewek?

apakah gw beneran harus nyari..?
eniwei, gw kemaren mencoba mendekati seseorang.. sayangnya gw melakukan beberapa kesalahan..
1. terlalu frontal dan blak-blakan
2. gak sabar
3. terlalu terus terang sehingga tidak menyisakan misteri
tapi, yang utama sih:
4. gak jujur, gw mencoba ngedeketin karena dipanas2in.. tapi entahlah gw juga belum mengerti tentang diri gw sendiri.

mengerti keinginan diri sendiri saja tidak, bagaimana mau mengerti keinginan orang lain?

belajar agar lebih baik..

cintailah pembelajaran di perkuliahan
seperti mencintai game favoritmu..

Tetesan Embun Malam Ini

•December 15, 2008 • Leave a Comment

“lakukan kesalahan sebanyak2nya
tapi jangan kesalahan yang sama
dan belajarlah dari kesalahan2 lo”

” lo harus fokus pilih
tanggung jawab dengan bijak
tanggung jawab yang bisa ngangkat lo ke tempat yang bisa membuat lo mencapai visi lo kelak
dan kerjain tanggung jawab itu dengan sebaik2nya”

from teja_253

Iedul Adha Bersama Keluarga Rumah Kos

•December 9, 2008 • 1 Comment

Lebaran Qurban, begitu biasanya orang-orang menyebut hari ini. Kali ini, saya merayakan lebaran yang berbeda dengan tahun lalu. Lebaran tahun lalu saya rayakan bersama keluarga saya di Yogyakarta. Keluarga saya saat itu masih cukup utuh dan rumah masih cukup tenteram. Saya juga membakar kambing bersama teman-teman SMA saya. Sementara itu, sekarang saya merayakannya bersama keluarga saya di Bandung, para penghuni Cisitu Lama 52A.

Ada empat poin yang ingin saya soroti. Pertama, mengapa akhirnya saya memutuskan untuk berlebaran di Bandung. Kedua, mengapa saya bisa menyebut penghuni rumah kos saya sebagai keluarga. Ketiga, khutbah yang begitu menyentil saya. Keempat, doa yang saya panjatkan di hari ini.

Sebenarnya, beberapa hari yang lalu mama saya menelepon. Beliau menanyakan apakah saya libur dalam waktu yang cukup lama. Beliau mengharapkan kehadiran saya di Malang, menyusul anggota keluarga yang lainnya. Ditambah lagi, adik saya yang paling kecil, Salsa, sedang dirawat di rumah sakit. Adik saya memiliki penyakit asma(tulisannya bener gini ga ya?). Saya akhirnya dengan berat hati tidak pulang karena beberapa pertimbangan. Yang pertama adalah, saya malas bepergian jauh, takut kecapekan di perjalanan. Yang kedua, saya harus presentasi tentang DIY di hari Rabu pagi. Yang ketiga, sayang aja sama uang untuk ongkos. Alhamdulillah, keberadaan saya di Bandung bisa berguna untuk HME. Saya bisa bantu-bantu di PASTEL, hitung-hitung sebagai trade off atas ketidakbecusan saya sebagai PJ pameran. Selain itu, saya juga ditawari oleh Pak Kahim untuk orasi tentang petani di Indonesia dalam rangka hari HAM. Semoga saya bisa melakukan tugas tersebut dengan baik. Amiin.

Rumah kos yang saya tinggali cukup unik. Sejarah mengapa saya bisa tinggal di sini juga cukup unik. Entah bagaimana takdir memang sudah menuliskan saya untuk tinggal di rumah tua ini. Saat saya dan Ayah saya baru saja turun dari angkot, seorang nenek bertanya kepada kami apakah kami sudah mendapatkan kos. Waktu itu kami sedang menunggu Mas Eko, anak dari tetangga Eyang saya di Malang. Ayah saya pun berkata kepada nenek tersebut bahwa kami sedang menunggu teman.Beberapa saat kemudian Mas Eko datang. Ternyata rumah kos yang ditawarkan nenek tersebut adalah rumah kos yang ditinggali Mas Eko. Ketika saya pertama kali masuk ke rumah ini, logika saya cukup menentang. Kondisi bangunan yang tua, berdebu, dan suram membuat saya merasa tidak nyaman. Namun, karena keplegamtisan saya, akhirnya saya tinggal di rumah yang jika dilihat dari penampilannya sangat tidak menarik ini. Namun, jika dilihat lagi, rumah tua ini telah memberikan banyak pelajaran berharga bagi saya, seorang anak yang harus menjalani perkuliahan pada usia 15 tahun.

Salah satu pelajaran yang saya ambil adalah tentang kekeluargaan. Pada Iedul Adha kali ini saya mandi agak telat. Namun, saudara-saudara penghuni kos masih mau menunggu saya selesai mandi. Toleransi. Setelah selesai sholat, kami tentu saja kelaparan. Namun sayangnya, tidak ada warung yang buka. Ibu kos pun menawarkan makanan bagi kami. Berbagi. Kami pun saling bercanda dan bersuka cita di hari yang mulia ini sembari menikmati opor ayam. Saling menyenangkan orang lain. Sungguh hati saya tiada hentiny bersyukur telah memperoleh tempat tinggal yang seperti surga ini. Suasana yang menyenangkan, dan bahkan jauh lebih meriah dibandingkan rumah sendiri. Ada banyak saudara, ada yang sudah lulus, ada yang sudah bekerja, ada yang seangkatan, ada yang teman SD dan kini jadi adik angkatan. Alhamdulillah, telah Engkau berikan lagi nikmat untukku. Dan sungguh, aku tidak ingin mendustainya.

Poin ketiga yang saya soroti adalah khutbah yang dibawakan Sang Khotib. Isinya seperti berikut:

Ada 4 ciri orang yang lebih mengutamakan dunia dibandingkan dengan akhirat:
1. Kebingungungan yang tak pernah berhenti.
2. Kesibukan yang tak kunjung selesai.
3. Kebutuhan yang tidak juga terpenuhi.
4. Cita-cita yang tak dapat diraih.

Menariknya adalah saya selalu merasakan keempat hal di atas. Saya selalu merasa bingung di tengah kepastian. Dan yang utama adalah gelisah karena cita-cita dan ketamakan. Hal ini hendaknya kita jadikan cermin. Apakah kita sudah berqurban? Apakah kita sudah mengetahui posisi diri kita? Apakah kita sudah mengenal diri kita?

Poin keempat adalah doa. Dari pengetahuan yang saya dapatkan, berdoa adalah suatu kewajiban bagi manusia. Berdoa bukanlah hak, tetapi kewajiban. Dengan berdoa, kita mengakui bahwa terdapat kekuatan yang luar biasa di luar diri kita. Dengan berdoa, kita menyadari bahwa diri ini adalah sesuatu yang lemah dan tak memiliki daya. Dan atas segala ujian yang menimpa kita, kita wajib berdoa kepada Yang Maha Esa.

Ya Allah, berikanlah aku, mamaku, ayahku, adik-adikku kekuatan untuk bisa kembali menjadi keluarga yang sakinnah ma waddah wa rahmah. Ya Allah, sayangi kedua orang tuaku, aku sangat menyayangi mereka, aku sangat sangat sangat ingin mereka menjadi lebih baik . Ya Allah, sayangilah adik-adikku, berilah mereka kesehatan dan kecerdasan. Ya Allah, sayangilah tanteku dan bayi yang telah dilahirkannya, hanya Engkaulah Sang Penyembuh dari segala virus di dunia ini. Ya Allah, berikanlah rahmat-Mu kepada seluruh keluarga besarku, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal. Ya Allah, berikanlah kekuatan kepada seluruh hamba-Mu, untuk senantiasa mengingat-Mu. Amin!